Feeds:
Pos
Komentar

Oleh : Drs. Nadjamuddin S. Baropo

(Ketua Pokjawas Pendais Kab Buol)

I. PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang Masalah

Pada era otonomi sekarang ini, sekolah harus berubah kearah yang sesuai dengan tuntutan masa, agar tidak ketinggalan zaman. Jam ’an Satori (1999) dalam Dadang Suhardan (2006 : 8-9) menyatakan bahwa ”…perubahan yang seharusnya terjadi di sekolah pada era otonomi pendidikan terletak pada : (1). Peningkatan kinerja staf, (2). Pengelolaan sekolah menjadi berbasis lokal, (3). Efisiensi dan efektivitas pengelolaan lembaga, (4). Akuntabilitas, (5). Transparansi, (6). Partisipasi masyarakat, (7) Profesionalisme pelayanan belajar, dan (8). Standarisasi”. Kedelapan aspek tersebut seharusnya membawa sekolah kepada keunggulan mutu lembaga, sebab sekolah memiliki keleluasaan dalam melaksanakan peningkatan mutu layanan belajar, namun kenyataannya belum terjadi. Menurut Dadang Suhardan (2006:9):”…Sekolah-sekolah kini belum mampu memberi layanan belajar bermutu karena belum mampu memberi kepuasan belajar peserta didiknya”.

Menurut Engkoswara (2001 : 3), fungsi utama perilaku berorganisasi dalam bidang pendidikan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan yang menyangkut ketiga bidang garapan utama, yaitu : sumber daya manusia (SDM), sumber belajar (SB), sumber fasilitas dan dana (SFD). SDM terdiri atas peserta didik, tenaga kependidikan dan masyarakat pemakai jasa pendidikan. SB ialah alat atau rencana kegiatan yang akan dipergunakan sebagai media seperti kurikulum. SFD adalah faktor pendukung yang memungkinkan pendidikan berjalan dengan harapan.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang memberi arahan perlunya disusun dan dilaksanakan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, yang meliputi : (1) standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan dan (8) standar penilaian.

Pengawas Satuan pendidikan merupakan tenaga kependidikan mutlak terstandarisasi kompetensinya secara nasional menurut PP No 19 tahun 2005 di atas, yakni standar pendidik dan tenaga kependidikan nasional. Karena Pengawas Sekolah/madrasah adalah salah satu unsur yang berperan aktif dalam lembaga pendidikan (persekolahan). Pengawas Satuan Pendidikan adalah pelaku pendidikan didalam pelaksanaan tugas kepengawasan pendidikan yang meliputi tiga aspek yaitu supervisi, pengendalian (kontroling) dan inspeksi kependidikan. Lanjut Baca »

Iklan

Profil Kabupaten Buol

Wilayah Buol merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Lipunoto, secara geografis terletak di 0,35o- 1,20o LU dan antara120,12o- 122,09o BT. Daerah ini berbatasan dengan Laut sulawesi sekaligus berbatasn dengan Negara Philipina di utara, Kabupaten Toli-toli dan Kabupetn Parimo di selatan, Kabupetn gorontalo di Provinsi Gorontalo di timur, Kabupaten Tolitoli di barat. Luas wilayah daerah ini adalah 4.043, 57 Km2.

Secara administratif, daerah ini terbagi menjadi 11 Kecamatan, (+100 Desa?), dan 7 Kelurahan. Daerah ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor pertanian dengan hasil pertanian yang utama berupa bahan tanaman makanan yang meliputi padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang hijau, kedele untuk hasil perkebunan komoditi yang dihasilkan didaerah ini berupa kelapa dalam, cengkeh, kakao, jambu mete, lada, kopi robusta. Lanjut Baca »

Secara administratif, Provinsi Sulawesi Tengah terbagi menjadi 9 kabupaten dan dan 1 kotamadya dengan Palu sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini memiliki komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan dan perikanan. Komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan yaitu kelapa, kakao, kelapa sawit dan karet sedangkan untuk sub sektor perikanan berupa perikanan tangkap. Termasuk perikanan laut, budidaya dan umum (tambak, kolam, sawah, keramba). Daerah Sulteng memiliki potensi hasil hutan yang cukup besar, terutama kayu bakau, kayu hitam, kayu meranti, kayu kuning, serta hasil hutan lainnya, seperti rotan dan damar.

Begitu juga di sektor pertambangan, daerah Sulawesi Tengah memiliki berbagai bahan mineral seperti emas, nikel, bijih besi, mangan, mika skis, limestone, granit, marmer, kaolin, gypsum, dan batubara. Seluruh potensi tambang mineral tersebut tersebar di beberapa wilayah dati II. Sementara itu, cadangan (deposit) minyak bumi dan gas terdapat di Kabupaten Donggala dan Poso. Lanjut Baca »